Home arrow Info Produk arrow Bahan Makanan arrow Fortifikasi beras
Fortifikasi beras PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 24 September 2008

Arah Pangan 2025, Fortifikasi Beras
Produk Transgenik Tergantung Evaluasi Keamanan

 

Oleh: Andreas Maryoto

Jakarta, Kompas - Kebutuhan pangan pokok dari 273,7 juta penduduk Indonesia pada tahun 2025 masih tetap tergantung pada beras. Karena itu, selain persoalan pemenuhan volume produksi, diperlukan juga adanya peningkatan kualitas sumber karbohidrat dengan melakukan fortifikasi beras.

Arah Pangan 2025, Fortifikasi Beras
Produk Transgenik Tergantung Evaluasi Keamanan

 

Oleh: Andreas Maryoto

Jakarta, Kompas - Kebutuhan pangan pokok dari 273,7 juta penduduk Indonesia pada tahun 2025 masih tetap tergantung pada beras. Karena itu, selain persoalan pemenuhan volume produksi, diperlukan juga adanya peningkatan kualitas sumber karbohidrat dengan melakukan fortifikasi beras.

Pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin dan Husein Sawit di Jakarta, Rabu (3/8), ketika dimintai pendapat mengenai proyeksi penduduk 2025 dan pemenuhan pangan mengatakan, sumber utama pangan pokok masih bertumpu pada beras.

”Pada saat itu bukan hanya persoalan produksi. Kualitas pangan harus meningkat, salah satunya dengan fortifikasi beras dengan mineral atau vitamin,” kata Bustanul.

Ia menyebutkan, meski riset sudah dilakukan, tetapi masih tergolong lambat. Di beberapa negara fortifikasi sedang dikembangkan. Salah satunya adalah Golden Rice, padi yang mengandung vitamin A.

Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriyantono mengatakan, masalah produksi pangan pada tahun 2025 ditanggulangi dengan ekstensifikasi dan peningkatan produktivitas padi. Peningkatan produktivitas dilakukan dengan menggunakan bibit unggul dan teknologi yang tepat.

”Dengan melihat China mampu memproduksi padi hibrida dengan produktivitas 12 ton per hektar, sebenarnya kita masih bisa meningkatkan produktivitas padi. Riset yang ada sedang berjalan. Saya sudah minta agar ada varietas baru,” katanya.

Mengenai kemungkinan penggunaan benih transgenik, Mentan mengatakan, pihaknya belum meloloskan ataupun menolak. Penggunaan produk transgenik sangat tergantung dari evaluasi keamanan. Dari evaluasi keamanan ini akan ditentukan apakah boleh digunakan atau tidak.

Tergantung beras

Husein Sawit menyebutkan bahwa diversifikasi pangan terkait dengan peningkatan pendapatan penduduk. Bila pendapatan tetap rendah, maka masih tergantung pada sumber karbohidrat. Kondisi pada tahun 2025 diperkirakan masih tergantung pada beras.

”Beras tetap menjadi tumpuan karena pertambahan penduduk, sumber karbohidrat yang paling murah, mudah diproduksi, dan cocok dengan selera,” katanya.

Sedangkan Bustanul mengatakan, meski konsumsi beras per kapita akan menurun, tetapi karena pertambahan penduduk sangat besar, kebutuhan beras akan meningkat.

”Sekarang memang banyak penelitian baru. Akan tetapi, sepanjang teknologi tidak bisa diterapkan di lapangan, peningkatan produksi akan sulit dilakukan,” katanya.

Last Updated ( Wednesday, 24 September 2008 )
 
< Prev   Next >