Kuala Lumpur-RoL -- Unicef menjadikan Indonesia sebagai
contoh bagi negara Asia Timur dan Asia Pasifik mengenai pemerintahan yang
mewajibkan industri tepung terigu memasukkan unsur zat besi, vitamin B1 dan b2,
asam polat, zat seng, yang sangat penting bagi kesehatan dan kecerdasan
anak-anak.
Unicef menampilkan Prof Soekirman, Direktur Koalisi Fortifikasi Indonesia
(KFI) dan guru besar di IPB; dan Budianto Wijaya, Vice president PT Indofood
Sukses Makmur Tbk, untuk menceritakan pengalaman Indonesia kepada negara-negara
lain dalam "1th Regional Flour Fortification Workshop for East & South East
Asia", di Subang Jaya, Selangor, Rabu (22/8).
Fortifikasi adalah program memasukan unsur nutrisi dalam makanan atau bahan
pokok untuk makanan. Menurut Prof Soekirman, Indonesia sejak zaman Presiden
Soeharto atau Orde Baru sudah memiliki kebijakan mewajibkan industri tepung
terigu unsur zat besi yang sangat baik untuk kesehatan dan kecerdasan
anak-anak.
Tapi kemudian, setelah reformasi di mana ada kebebasan impor tepung terigu
dan masyarakat bersikap antipati terhadap PT Indofood yang memonopoli tepung
terigu kemudian menimbulkan banyak importir tepung terigu dari mancanegara yang
tidak punya program tersebut. Akibatnya, banyak tepung terigu beredar tanpa ada
unsur zat besi dan vitamin lainnya.
"Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemudian meneruskan kebijakan Presiden
Soeharto untuk memasukkan unsur nutrisi dalam setiap tepung terigu yang beredar
di Indonesia," kata Soekirman.
Budianto Wijaya yang dihadirkan oleh Unicef menjelaskan kepada industri
tepung terigu bahwa memasukkan unsur zat besi dan nutrisi lainnya dalam produksi
tepung terigu tidak mahal dan tidak membuat harga jual mahal. "Hanya sekitar Rp
2 per bungkus Indomie untuk memasukkan unsur Nutrisi kepada tepung terigu,"
katanya.
Indofood dulu hanya memasukkan unsur zat besi tapi kini dalam tepung
terigunya mengandung pula vitamin B1 dan B2, zat seng dan Vitamin A dan B. "Kami
berharap, pemerintah Indonesia dan kalangan pengusaha industri terigu di
Indonesia konsisten untuk menjalankan kebijakan pemerintah Indonesia mengenai
fortifikasi makanan," katanya.
Oleh karena itu, Unicef menjadikan Indonesia sebagai contoh bagi negara Asia
Timur dan Pasifik pada workshop mengenai fortifikasi tepung terigu di kawasan
Asia pasifik yang ke-1 di Kuala Lumpur.
Menurut Unicef, di Asia Timur dan Pasifik, ada 22 juta anak-anak yang
kekurangan nutrisi. Unicef memperkirakan 25 persen wanita, dalam usia reproduksi
(dapat hamil), dan 17 persen anak-anak di bawah lima tahun di Cina mengalami
anemia, sepertiga anak-anak Filipina beratnya di bawah standar, sepertiga
anak-anak di Indonesia dan Vietnam mengalami berat badan di bawah standar, dan
38 persen wanita hamil di Malaysia mengalami anemia.