|
Bank
Dunia menggambarkan dampak kurang gizi mikro pada kesejahteraan
masyarakat. Negara seperti Indonesia, misalnya, setiap tahun bakal
kehilangan 20.000 orang karena kematian, 11.000 anak lahir cacat,
360.000 anak kehilangan kesempatan belajar karena tidak naik kelas atau
putus sekolah. Lalu, sekitar 1,3 juta orang kehilangan kesempatan kerja
karena produktivitasnya rendah.
Paling Efektif
Ada
banyak masalah yang melatarbelakangi semua itu, sebutlah faktor
ekonomi, pendidikan (ketidaktahuan), adat istiadat, dan lainnya. Alan
Berg, mantan penasihat senior Bank Dunia untuk masalah gizi, menyatakan
pemahaman penanggulangan masalah gizi tak cukup dengan pelayanan
kesehatan.
Meski terkait dengan pangan, masalah kurang gizi tak
bisa sekadar diatasi dengan meningkatkan produksi pangan. Dan meski
masalah gizi merupakan sindroma kemiskinan, pemecahannya tak harus
menunggu sampai mentas dari situasi ini.
Di sinilah fortifikasi masuk. Ini adalah upaya meningkatkan mutu gizi makanan dengan menambahkan satu atau lebih zat gizi mikro.
Ahli gizi Prof. Soekirman
menyebutkan, idealnya perbaikan gizi ditempuh melalui perbaikan
konsumsi makanan sehari-hari dengan menu gizi seimbang. Namun, karena
kemiskinan dan daya beli masyarakat rendah, tidak semua anggota
masyarakat mampu memenuhi tuntutan standar ini.
Di negara-negara
Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, juga Amerika Serikat, fortifikasi
terbukti berjasa mengatasi masalah kurang gizi mikro. Tidak heran, Bank
Dunia menyatakan bahwa fortifikasi merupakan program gizi yang paling
cost-effective dibanding program lain.
Dengan biaya sama atau
lebih kecil, program fortifikasi memberikan manfaat lebih besar. Selain
kecap kedelai, kecap ikan, tepung terigu, mi, beras, tepung jagung, ada
garam yang bisa digunakan sebagai makanan pembawa.
Zat Besi dan Vitamin A
Di
beberapa negara seperti Cina, kecap difortifikasi dengan zat besi, asam
folat, dan vitamin A. di India, tepung terigu difortifikasi dengan
bahan yang sama, juga di Filipina. Di Thailang, mi difortifikasi dengan
iodium, vitamin A, dan zat besi.
Di Indonesia, pilihan garam
untuk difortifikasi merupakan langkah yang dianggap tepat karena hampir
setiap orang menggunakannya sebagai bahan penambah rasa makanan.
Selama
ini kita mengenal fortifikasi iodium pada garam. Ternyata sebuah
teknologi yang ditemukan di Swiss tahun 1921 membuat garam juga bisa
difortifikasi dengan zat besi dan vitamin A. Teknologi ini dianggap
sebagai terobosan baru.
Menurut Giharto Goenawan, pemilik UD Kalian, produsen garam Progizi,
penambahan atau fortifikasi garam dengan zat besi dan iodium secara
bersamaan tidaklah mudah. "Karena keduanya saling meniadakan," kata
pria yang mendapat penghargaan sebagai produsen teladan garam beriodium
dari UNICEF ini. Untungnya, tim dari Puslitbang Gizi IPB mampu
melakukannya.
DR. Nurul L. Ida Soeid, MS,
peneliti dan dosen di Jurusan Kimia FMIPA Institut Teknologi Sepuluh
November, Surabaya, mengungkapkan bahwa penelitian garam fortifikasi
ganda (GFG) pernah dilakukan oleh para ahli di Universitas Toronto,
Kanada. Penelitian selama sepuluh tahun lebih itu menghabiskan dana
kurang lebih 3 juta dolar AS.
Hasil penelitian tim dari Jurusan
Biokimia Pascasarjana IPB menunjukkan, GFG yang terbuat dari KIO3
sebagai somber iodium dan besi elemental enkapsulasi sebagai sumber zat
besi sangat stabil selama enam bulan penyimpanan, bahkan bisa lebih
dari itu. Kestabilan ini ditandai oleh warna, rasa, bau, serta
kandungan iodium dan besi yang tidak berubah secara berarti.
Penambahan
zat gizi lain seperti vitamin A juga dapat dilakukan. Karena itu, garam
ini tak hanya memberikan rasa asin. Masalah kekurangan vitamin dan
mineral dasar pun mampu teratasi.
Buktinya, tambah Nurul,
responden di Desa Junrejo, Jawa Timur yang diberi konsumsi garam dengan
forkifikasi tripel setiap hari selama tiga bulan menunjukkan
peningkatan kadar Hb rata-rata sangat berarti, dari 11,5 g/dl menjadi
12,8 g/dl. Status besi darah juga meningkat dari 80,5 mg/dl menjadi
100,6 mg/dl.
Jadi, gunakan garam fortifikasi tripel agar bebas dari kurang gizi.
Keuntungan Fortifikasi:
- Efektif menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
- Murah (<Rp 20/orang/hari).
- Sangat praktis dan aman karena gizi sudah terkandung di dalam garam yang dikonsumsi setiap hari dala dosis relatif tetap.
- Asupan gizi dalam jumlah signifikan (tidak berlebih) secara kontinyu dan jangka panjang.
Dampak kekurangan gizi mikro:
Zat Besi:
- Produktivitas kerja menurun. Kerugian Rp 8,9 triliun per tahun.
- Kerugian ekonomi delapan tahun ke depan Rp 110,2 triliun.
- Anak usia 6-24 bulan yang mengalami gangguan otak 40-60 persen.
- Tiap tahun 2.300 ibu meninggal saat hamil atau melahirkan.
- Sekitar 26.000 bayi berisiko mati sebelum atau sesudah dilahirkan.
Iodium:
- Sejumlah 400.000 bayi per tahun mengalami gangguan intelektual.
- Kerugian ekonomi 8 tahun ke depan Rp 35,2 triliun.
Vitamin A:
- Sekitar 25 persen anak Indonesia memiliki kekebalan rendah (mudah infeksi).
Seng:
- Gangguan pertumbuhan fisik.
- Gangguan perkembangan mental.
- Gangguan kekebalan.
Sumber: Senior, Sabtu 18 Agustus 2007
|