Dr. Etik Mardliyati seorang staf
peneliti pada Pusat Teknologi Farmasi dan Medika - BPPT, menulis artikel menarik tentang fortifikasi garam dengan zat besi dalam rangka menanggulang masalah Anemia Gizi Besi. Artikel yang snagat menarik ini ditulis dalam www.beritaiptek.com. Ikutilah penuturannya berikut ini.
Selasa, 19 September 2006 06:18:21
Artikel Iptek
Selain busung lapar, ada lagi jenis kelaparan yang perlu kita
cermati keberadaannya, yakni kekurangan zat gizi mikro, atau yang lebih sering
disebut sebagai "kelaparan tersembunyi (hidden hunger) ". Zat gizi mikro
(micronutrient) adalah zat gizi berupa vitamin dan mineral, yang walaupun
kuantitas kebutuhannya relatif sedikit namun memiliki peranan yang sangat
penting pada proses metabolisme dan beberapa peran lainnya pada organ tubuh.
Kekurangan asupan dan absorbsi zat gizi mikro dapat mengakibatkan gangguan pada
kesehatan, pertumbuhan, mental dan fungsi lain (kognitif, sistim imunitas,
reproduksi, dan lain-lain).
Salah satu zat gizi mikro yang terpenting
adalah zat besi (Fe). Zat besi memiliki peran yang sangat penting pada
pembentukan hemoglobin yakni protein pada sel darah merah yang bertugas
mengantarkan oksigen dari paru-paru ke otak dan seluruh jaringan tubuh.
Kekurangan zat besi dalam jangka panjang akan mengakibatkan terjadinya anemia
gizi besi (iron deficiency anemia/IDA). Secara umum, dampak yang
ditimbulkan dari anemia gizi besi adalah kelesuan sebagai akibat kurangnya
pasokan oksigen dalam darah, lemahnya konsentrasi berfikir dan rendahnya
produktivitas kerja. Selain itu, pada anak-anak anemia gizi besi dapat
mengakibatkan kerusakan sel otak secara permanen, gangguan perkembangan
psikomotorik serta gangguan pada sistem imunitas tubuh. Sedang pada ibu hamil
anemia gizi besi dapat mengakibatkan kematian bayi dalam kandungan, lahir
prematur atau lahir dengan berat badan rendah.
Seperti halnya di negara
berkembang lainnya, anemia gizi besi merupakan masalah gizi utama di Indonesia.
Diperkirakan 25-35% penduduk Indonesia menderita anemia gizi besi, dengan
prevalensi terbesar pada ibu hamil dan balita. Selain berdampak pada rendahnya
kualitas sumber daya manusia, anemia gizi besi juga memberikan dampak yang besar
pada perekonomian nasional. Diperkirakan setiap tahun Indonesia mengalami
kerugian sekitar 8,9 triliun rupiah akibat anemia.
Strategi
Penanggulangan
Ada 2 jenis pendekatan yang dapat dilakukan guna
mengatasi dan mencegah kekurangan zat besi, yakni pendekatan berbasis medis
(pharmaceutical based approach) yakni dengan suplementasi, dan pendekatan
berbasis pangan (food based approach) yakni dengan perbaikan
makanan/pangan dan fortifikasi pangan.
Penanganan defisiensi zat besi
melalui suplementasi tablet besi merupakan cara yang paling efektif untuk
meningkatkan kadar zat besi dalam jangka pendek. Suplementasi biasanya ditujukan
pada golongan yang rawan mengalami defisiensi besi seperti ibu hamil dan ibu
menyusui. Di Indonesia, pemerintah melakukan program suplementasi gratis pada
ibu hamil melalui Puskesmas dan Posyandu, dengan menggunakan tablet besi folat
(mengandung 60 mg elemental besi dan 0,25 mg asam folat). Kendala utama dari
efektifitas metoda ini adalah dibutuhkan biaya yang cukup tinggi dan perlu
motivasi yang berkelanjutan dalam mengkonsumsi suplemen.
Perbaikan
pangan berupa modifikasi dan diversifikasi pangan merupakan metoda yang paling
ideal. Namun, seringkali dalam prakteknya memiliki berbagai keterbatasan, antara
lain sulitnya merubah kebiasaan kesukaan seseorang akan jenis makanan serta
mahalnya bahan pangan yang kaya akan zat besi dengan bioavailabilitas tinggi
seperti daging-dagingan.
Fortifikasi atau penambahan satu atau lebih zat
gizi mikro pada pangan yang lazim dikonsumsi merupakan strategi penting yang
dapat digunakan untuk meningkatkan status zat gizi mikro di dalam pangan.
Fortifikasi pangan umumnya digunakan untuk mengatasi masalah zat gizi mikro pada
jangka menengah dan panjang. Beberapa kelebihan dari strategi ini adalah
populasi sasarannya luas, tidak diperlukan sarana/program khusus dalam
pemberian, serta tingkat penerimaan dan tingkat kesinambungannya tinggi. Di
negara-negara maju, fortifikasi pangan merupakan strategi yang terbukti paling
efektif untuk mengontrol kekurangan zat gizi mikro. Sebagai contoh, program
fortifikasi margarin dengan vitamin A berhasil menghilangkan ricket di
Inggris, Kanada dan Eropa Utara. Fortifikasi garam dengan iodium yang merupakan
program dunia yang terbukti mampu menekan goitre secara signifikan.
Sedangkan untuk zat besi, Di Swedia dan Amerika Serikat fortifikasi pada tepung
terigu berhasil menurunkan prevalensi penderita anemia gizi besi secara
dramatis.
Garam sebagai "Tunggangan"
Dibandingkan dengan
strategi lain yang digunakan untuk penanggulangan anemia gizi besi, fortifikasi
pangan dipandang oleh para ahli gizi sebagai strategi yang paling praktis,
ekonomis dan efektif untuk memenuhi kebutuhan asupan harian zat besi. Di
Indonesia, fortifikasi zat besi telah wajib diberlakukan pada beberapa produk
pangan seperti mie instant, susu bubuk dan terigu. Namun demikian, sampai
sekarang fortifikasi masih belum banyak berperan dalam penanggulangan anemia
gizi besi di masyarakat, terlihat dengan masih tingginya angka prevalensi anemia
gizi besi. Salah satu penyebabnya adalah karena bahan pangan yang digunakan
sebagai tunggangan (vehicle) belum dikonsumsi secara luas dan kontinyu oleh
seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat ekonomi lemah. Agar strategi
fortifikasi ini lebih efektif, perlu dicari pangan "tunggangan" baru yang lebih
umum dan banyak dikonsumsi masyarakat.
Dilihat dari tingkat ekonomi dan
kultur masyarakat Indonesia, kandidat yang sangat potensial sebagai tunggangan
besi adalah garam. Sebagaimana diketahui, garam merupakan bahan pangan yang
murah, mudah didapat dan dikonsumsi setiap hari oleh seluruh lapisan masyarakat
di segala tingkat ekonomi. Disamping itu, kadar dan cara konsumsi garam bisa
dikatakan hampir seragam. Penggunaan garam sebagai pangan tunggangan pada
fortifikasi iodium telah dilakukan secara nasional dan terbukti berhasil
menanggulangi defisiensi iodium. Oleh karenanya, penambahan zat besi pada garam
beriodium memiliki harapan besar dapat digunakan untuk menanggulangi dua masalah
gizi utama di Indonesia sekaligus, yakni gangguan akibat kekurangan iodium
(GAKY) dan anemia gizi besi (AGB).
Permasalahan
teknologi
Poin penting yang harus diperhatikan pada fortifikasi garam
beriodium dengan zat besi adalah bioavailabilitas zat besi dan kestabilan
iodium.
Dibandingkan dengan zat gizi mikro lain, zat besi dikatakan
sebagai mineral yang paling sulit difortifikasi. Permasalahan utamanya adalah
senyawa besi larut air seperti besi sulfat, besi laktat dan sebagainya, yang
diketahui paling mudah diserap tubuh, seringkali menyebabkan perubahan warna dan
bau yang tidak diinginkan pada pangan tunggangannya. Sebagai contoh, penambahan
pada garam kualitas rendah dengan cepat akan mengakibatkan perubahan warna dan
bau tidak sedap, akibat reaksi antara ion besi dengan udara dan senyawa pengotor
seperti magnesium klorida dan magnesium sulfat. Disisi lain, senyawa tidak larut
air seperti besi elemen tidak menimbulkan perubahan warna dan bau, namun sulit
diserap oleh tubuh sehingga nilai gizinya sangat rendah. Selain itu,
permasalahan utama lainnya adalah terjadinya reaksi antara iodium dengan besi
yang mengakibatkan berkurang atau hilangnya kandungan iodium.
Oleh
karenanya, pada pengembangan teknologi fortifikasi garam beriodium dengan zat
besi, kedua permasalahan ini harus diatasi agar didapatkan garam fortifikasi
yang dapat diterima secara organoleptik dan memiliki nilai gizi yang
tinggi.
Mikroenkapsulasi, solusi permasalahan
Untuk
mencegah interaksi zat besi dengan senyawa lain dan kondisi lingkungan, metoda
yang sekarang ini dipandang paling prospektif dan efektif adalah dengan
memberikan pembatas fisik (physical barrier) pada ion besi dengan
menerapkan teknologi mikroenkapsulasi.
Mikroenkapsulasi adalah teknologi
untuk menyalut/melapisi suatu zat inti dengan suatu lapisan dinding polimer
sehingga menjadi partikel-partikel kecil berukuran mikro (seperseribu
milimeter). Dengan adanya lapisan dinding polimer ini, zat inti akan terlindungi
dari pengaruh lingkungan luar. Dengan demikian, sumber zat besi yang digunakan
dapat dipilih senyawa besi larut air yang bioavailabilitasnya tinggi, lalu
dengan mikroenkapsulasi, perubahan warna dan bau dapat dicegah serta stabilitas
zat besi dan iodium dapat dipertahankan dalam jangka lama.
Dalam
kaitannya dengan ini, penulis dan tim sekarang ini tengah melakukan riset
tentang pengembangan garam fortifikasi ganda (iodium dan besi) yang stabil
dengan menerapkan teknologi mikroenkapsulasi. Dari penelitian ini diharapkan
akan dihasilkan produk garam yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan
gizi mikro utama di Indonesia. Semoga!
Dr. Etik Mardliyati. Staf
peneliti pada Pusat Teknologi Farmasi dan Medika - BPPT.
(Sumber: www.beritaiptek.com)
|